Abu Arrayhan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni , Pemuda Islam Jenius yang dikatakan Melebihi Leonardo Da Vinci
Di abad pertengahan, ada seorang cendekiawan muslim yang sangat terkenal. Dia adalah Abu Arrayhan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni. al-Biruni merupakan salah satu matematikawan utama Islam saat itu. Dia juga berkontribusi pada ilmu astronomi, fisika, kedokteran dan juga sejarah.
Al-Biruni lahir di 'pinggiran' Kath, sebuah kota di distrik Khwarizm kuno, yang terletak di selatan Laut Aral. Pada awalnya, al-Biruni bekerja untuk penguasa Samanid yaitu Mansur II, tetapi karena kekacauan politik saat itu, dia terpaksa berganti - ganti atasan.
Hingga pada saat dia ditangkap sebagai tahanan politik oleh Sultan Ghaznawid Maḥmūd dan kemudian dibawa ke Ghazna, yang merupakan tempat dia tinggal sampai akhir hidupnya.
al-Biruni tertarik untuk mempelajari hampir semua cabang ilmu pengetahuan. Jumlah keseluruhan karyanya sebagian besar yang berbahasa Arab berjumlah 146. Namun sayangnya, hanya 22 karya yang tersisa.
Setengah dari tulisan Al-Biruni berkaitan dengan bidang ilmu eksak. Selain matematika, astronomi dan astrologi, ia juga memiliki keahlian di bidang kronologi, geografi, farmakologi, dan meteorologi.
Di masa mudanya, al-Biruni mempelajari ilmu pengetahuan Yunani, khususnya astronomi. Dia yakin akan pentingnya observasi dan dia mencatat banyak observasi sendiri dalam bukunya.
Salah satu karyanya adalah Taḥdīd al ‐ amākin atau penentuan koordinat kota, yang ia tulis saat dalam perjalanan dari Khwarizm ke Ghazna pada tahun 1018. Dalam buku itu, al-Biruni membeberkan penemuan perbedaan garis bujur di kedua kota tersebut dengan mengamati gerhana bulan.
Kemudian, Biruni juga menulis karya berjudul The Chronology of the Ancient Nations yang menjadi pusat tambang informasi pada kalender yang digunakan oleh Persia, Sogdians, Kwārizmians, Yahudi, Suriah, Harranians, Arab, dan Yunani.
Setengah dari tulisan itu terkait bidang ilmu eksakta. Selain matematika, astronomi, dan astrologi, ia berprestasi di bidang kronologi, geografi, farmakologi, dan meteorologi.
Di masa mudanya, al-Biruni mempelajari ilmu pengetahuan Yunani, khususnya astronomi. Dia yakin akan pentingnya observasi dan dia mencatat banyak observasi sendiri dalam bukunya.
Salah satu karyanya adalah Taḥdīd al ‐ amākin (penentuan koordinat kota), yang ia tulis saat dalam perjalanan dari Khwarizm ke Ghazna pada tahun 1018. Dalam buku itu, al-Biruni membeberkan penemuan perbedaan garis bujur di kedua kota tersebut dengan mengamati gerhana bulan.
Kemudian, Biruni juga menulis karya berjudul The Chronology of the Ancient Nations yang menjadi pusat tambang informasi pada kalender yang digunakan oleh Persia, Sogdians, Kwārizmians, Yahudi, Suriah, Harranians, Arab, dan Yunani.
Karya itu juga masih menjadi salah satu sumber paling andal tentang kronologi kuno dan abad pertengahan.
Al-Bīrūnī saat itu tidak banyak menyinggung tentang India, karena saat itu dia belum banyak mengetahui tentang kalender India. Di paruh kedua hidupnya, dia baru menjadi semakin tertarik pada budaya India. Perubahan itu mungkin merupakan hasil dari mendampingi Sultan Mahmūd dalam beberapa ekspedisi ke India.
Selama di India, al-Biruni mampu mengumpulkan banyak pengetahuan tentang budaya India, terutama ilmu eksakta yang ditulis dalam bahasa Sanskerta. Studinya di India menghasilkan mahakaryanya yang berjudul 'India'. Lewat buku itu, al-Bīrūnī dianggap layak disebut sebagai 'Ahli Indologi pertama' dalam arti kata modern.
Al-Bīrūnī paling produktif menciptakan karya pada tahun-tahun sekitar 1030, setelah Maḥmūd meninggal dan tahta diteruskan kepada putra sulungnya Masʿūd. Misalnya, dai membuat buku berisi prinsip-prinsip dan konsep dasar astronomi serta kosmologi, waktu, dan ruang.
Melansir Maths History, salah satu teks terpenting al-Biruni, yang kemudian dikenal dengan kegeniusan di segala bidang sains sejak muda ini adalah Shadows yang diperkirakan ditulisnya sekitar tahun 1021.
Karya tersebut menjelaskan fenomena aneh yang melibatkan bayangan, gnomonik, sejarah fungsi garis singgung dan garis potong, aplikasi fungsi bayangan ke astrolabe dan instrumen lain, observasi bayangan untuk solusi berbagai masalah astronomi, dan waktu sholat yang ditentukan bayangan.
Menurut al-Biruni, Bayangan adalah sumber yang sangat penting untuk pengetahuan tentang sejarah matematika, astronomi, dan fisika.
Kemudian, dia juga dianggap berjasa dalam ilmu geodesi dan geografi. Dia memperkenalkan teknik untuk mengukur bumi dan jarak di atasnya menggunakan triangulasi. Dia menemukan jari-jari bumi adalah 6.339.6 km.
Ilmu dalam fisika yang dipelajari oleh al-Biruni termasuk hidrostatika dan membuat pengukuran bobot tertentu yang sangat akurat. Dia menggambarkan rasio antara massa jenis emas, merkuri, timbal, perak, perunggu, tembaga, kuningan, besi, dan timah.
Al-Biruni juga menulis risalah tentang pengatur waktu dan menjelaskan kalender mekanis. Dia membuat pengamatan yang menarik tentang kecepatan cahaya, menyatakan bahwa kecepatannya sangat besar dibandingkan dengan kecepatan suara.
Lebih dari itu, banyak pihak menyebut al-Biruni tidak percaya pada 'sains' tetapi menggunakannya sebagai sarana untuk mendukung karya ilmiahnya yang serius. Dia juga disebut sebagai Muslim yang taat, dia menulis teks-teks agama tidak berprasangka buruk terhadap penganut agama atau ras yang berbeda.
Al-Biruni lahir di 'pinggiran' Kath, sebuah kota di distrik Khwarizm kuno, yang terletak di selatan Laut Aral. Pada awalnya, al-Biruni bekerja untuk penguasa Samanid yaitu Mansur II, tetapi karena kekacauan politik saat itu, dia terpaksa berganti - ganti atasan.
Hingga pada saat dia ditangkap sebagai tahanan politik oleh Sultan Ghaznawid Maḥmūd dan kemudian dibawa ke Ghazna, yang merupakan tempat dia tinggal sampai akhir hidupnya.
al-Biruni tertarik untuk mempelajari hampir semua cabang ilmu pengetahuan. Jumlah keseluruhan karyanya sebagian besar yang berbahasa Arab berjumlah 146. Namun sayangnya, hanya 22 karya yang tersisa.
Setengah dari tulisan Al-Biruni berkaitan dengan bidang ilmu eksak. Selain matematika, astronomi dan astrologi, ia juga memiliki keahlian di bidang kronologi, geografi, farmakologi, dan meteorologi.
Di masa mudanya, al-Biruni mempelajari ilmu pengetahuan Yunani, khususnya astronomi. Dia yakin akan pentingnya observasi dan dia mencatat banyak observasi sendiri dalam bukunya.
Salah satu karyanya adalah Taḥdīd al ‐ amākin atau penentuan koordinat kota, yang ia tulis saat dalam perjalanan dari Khwarizm ke Ghazna pada tahun 1018. Dalam buku itu, al-Biruni membeberkan penemuan perbedaan garis bujur di kedua kota tersebut dengan mengamati gerhana bulan.
Kemudian, Biruni juga menulis karya berjudul The Chronology of the Ancient Nations yang menjadi pusat tambang informasi pada kalender yang digunakan oleh Persia, Sogdians, Kwārizmians, Yahudi, Suriah, Harranians, Arab, dan Yunani.
Setengah dari tulisan itu terkait bidang ilmu eksakta. Selain matematika, astronomi, dan astrologi, ia berprestasi di bidang kronologi, geografi, farmakologi, dan meteorologi.
Di masa mudanya, al-Biruni mempelajari ilmu pengetahuan Yunani, khususnya astronomi. Dia yakin akan pentingnya observasi dan dia mencatat banyak observasi sendiri dalam bukunya.
Salah satu karyanya adalah Taḥdīd al ‐ amākin (penentuan koordinat kota), yang ia tulis saat dalam perjalanan dari Khwarizm ke Ghazna pada tahun 1018. Dalam buku itu, al-Biruni membeberkan penemuan perbedaan garis bujur di kedua kota tersebut dengan mengamati gerhana bulan.
Kemudian, Biruni juga menulis karya berjudul The Chronology of the Ancient Nations yang menjadi pusat tambang informasi pada kalender yang digunakan oleh Persia, Sogdians, Kwārizmians, Yahudi, Suriah, Harranians, Arab, dan Yunani.
Karya itu juga masih menjadi salah satu sumber paling andal tentang kronologi kuno dan abad pertengahan.
Al-Bīrūnī saat itu tidak banyak menyinggung tentang India, karena saat itu dia belum banyak mengetahui tentang kalender India. Di paruh kedua hidupnya, dia baru menjadi semakin tertarik pada budaya India. Perubahan itu mungkin merupakan hasil dari mendampingi Sultan Mahmūd dalam beberapa ekspedisi ke India.
Selama di India, al-Biruni mampu mengumpulkan banyak pengetahuan tentang budaya India, terutama ilmu eksakta yang ditulis dalam bahasa Sanskerta. Studinya di India menghasilkan mahakaryanya yang berjudul 'India'. Lewat buku itu, al-Bīrūnī dianggap layak disebut sebagai 'Ahli Indologi pertama' dalam arti kata modern.
Al-Bīrūnī paling produktif menciptakan karya pada tahun-tahun sekitar 1030, setelah Maḥmūd meninggal dan tahta diteruskan kepada putra sulungnya Masʿūd. Misalnya, dai membuat buku berisi prinsip-prinsip dan konsep dasar astronomi serta kosmologi, waktu, dan ruang.
Melansir Maths History, salah satu teks terpenting al-Biruni, yang kemudian dikenal dengan kegeniusan di segala bidang sains sejak muda ini adalah Shadows yang diperkirakan ditulisnya sekitar tahun 1021.
Karya tersebut menjelaskan fenomena aneh yang melibatkan bayangan, gnomonik, sejarah fungsi garis singgung dan garis potong, aplikasi fungsi bayangan ke astrolabe dan instrumen lain, observasi bayangan untuk solusi berbagai masalah astronomi, dan waktu sholat yang ditentukan bayangan.
Menurut al-Biruni, Bayangan adalah sumber yang sangat penting untuk pengetahuan tentang sejarah matematika, astronomi, dan fisika.
Kemudian, dia juga dianggap berjasa dalam ilmu geodesi dan geografi. Dia memperkenalkan teknik untuk mengukur bumi dan jarak di atasnya menggunakan triangulasi. Dia menemukan jari-jari bumi adalah 6.339.6 km.
Ilmu dalam fisika yang dipelajari oleh al-Biruni termasuk hidrostatika dan membuat pengukuran bobot tertentu yang sangat akurat. Dia menggambarkan rasio antara massa jenis emas, merkuri, timbal, perak, perunggu, tembaga, kuningan, besi, dan timah.
Al-Biruni juga menulis risalah tentang pengatur waktu dan menjelaskan kalender mekanis. Dia membuat pengamatan yang menarik tentang kecepatan cahaya, menyatakan bahwa kecepatannya sangat besar dibandingkan dengan kecepatan suara.
Lebih dari itu, banyak pihak menyebut al-Biruni tidak percaya pada 'sains' tetapi menggunakannya sebagai sarana untuk mendukung karya ilmiahnya yang serius. Dia juga disebut sebagai Muslim yang taat, dia menulis teks-teks agama tidak berprasangka buruk terhadap penganut agama atau ras yang berbeda.

Post a Comment for "Abu Arrayhan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni , Pemuda Islam Jenius yang dikatakan Melebihi Leonardo Da Vinci"